Tuesday, December 13, 2016

Jangan Biarkan Indonesia Meredup

Jangan Biarkan Indonesia Meredup

“Jangan berperang satu sama lain. Jangan membunuh bangsa sendiri. Jangan biarkan Indonesia meredup.” – Gede Pasek Suardika, Mantan Ketua Komisi III DPR RI.

Indonesia membutuhkan waktu yang lama untuk merdeka sebab masyarakatnya dikatakan mudah untuk diadu domba. Kelemahan utama bangsa ini adalah bagaimana bangsa ini mudah dipengaruhi, dihasut untuk saling membenci.

Setelah merdeka-pun, terjadi gerakan-gerakan saling membenci antar suku, antar partai politik, antar institusi, antar wilayah bahkan antar supporter bola. Dan, isu yang sangat sensitif akhir-akhir ini yaitu isu agama.

Dikaitkan dengan kasus yang terjadi belakangan ini. Bangsa Indonesia malah seperti sedang mengalami dilema yang sama “lagi dan lagi”. Kasus yang menimpa Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengenai tuduhan penistaan agama dan aksi 212 seperti menyadarkan bangsa ini bahwa : Ada apa dengan Indonesia?

Dalam laman berita online, cnnindonesia,  Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa tantangan utama yang dialami pertahanan Indonesia adalah proxy war (perang tidak tampak). Saat dimana masyarakat Indonesia dicekoki dan di adu domba satu sama lain oleh pengaruh asing. Dan praktik ini sesungguhnya memang sudah berlaku sejak lama, sejak jaman kolonial Belanda.

Perbedaannya, di jaman globalisasi seperti sekarang, medsos (media sosial)-lah yang mempercepat perpecahan itu sendiri. Dalam laman berita online news.detik, Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Hengky Haryadi mengatakan bahwa hasutan dari media sosial mempercepat eskalasi konflik. Statement Hengky Haryadi tentunya berdasarkan kasus-kasus yang belakangan ini banyak bermunculan. Salah satunya adalah kasus bentrok warga di Tanjung Balai Sumatera Utara Juli 2016. Melalui medsos, agresivitas sekelompok orang tertentu mudah dibangkitkan, yang pada akhirnya berakhir dengan bentrok. Media sosial seperti pisau bermata dua. Memudahkan sekaligus memprihatinkan saat medsos menjadi media penyebaran kebencian dan provokasi yang mengarah pada isu SARA.

Kami mengkaji bahwa, tantangan terbesar Indonesia sesungguhnya adalah rasa saling curiga dan kanibalisme atau rasa saling ingin memakan satu sama lain antar masyarakat. Masalah terbesar Indonesia bukan di toleransi masyarakatnya yang rendah, namun sifat mudah terpengaruhi-nya yang tinggi. Padahal bangsa kita adalah bangsa yang besar.

Masyarakat Indonesia perlu sadar bahwa mereka adalah bagian penting NKRI. Besar atau kecil. Organisasi ataupun individu. Mereka tetap jadi bagian dari NKRI. Rapuh sedikit saja, dapat membuat NKRI tak lagi utuh dan sekuat sebelumnya.

Sebagai bangsa yang cerdas, di momentum Hari Kesatuan Nasional yang tepat jatuh hari ini, 13 Desember 2016, masyarakat Indonesia harus bersatu. Berperang melawan proxy war tidak lagi dengan otot dan emosi namun dengan otak dan empati.

Seperti ucap Mantan Ketua Komisi III DPR RI dalam Seminar Nasional Pilar Kebangsaan Pancasila, UUD45, NKRI, Bhineka Tunggal Ika Indonesia Bersatu, Beragam Warna, Berjuta Karya, bangsa ini perlu untuk tidak berperang satu sama lain dan tidak membunuh bangsa-nya sendiri. Indonesia harus bersatu. Jangan biarkan rasa kesatuan meredup. Jangan biarkan Indonesia meredup.

Selamat Hari Kesatuan Nasional!

Salam Kolaboratif
Unity to Glory! FISIP!!
Departemen Kajian Aksi Strategis dan Pengabdian Masyarakat
BEM FISIP Universitas Udayana
Kabinet FISIP Kolaboratif


Dept. Media Kreatif BEM FISIP UNUD. Powered by Blogger.