Monday, April 25, 2016

PANDANGAN DAN PERNYATAAN SIKAP BEM BESERTA HMPS FISIP UNUD 2016-2017, KEBEBASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM (STUDI KASUS: KASUS PEMUKULAN MAHASISWA DI RIAU)

  


PANDANGAN DAN PERNYATAAN SIKAP BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA BESERTA HIMPUNAN MAHASISWA PROGRAM STUDI YANG ADA PADA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2016-2017, 
KEBEBASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM

(STUDI KASUS: KASUS PEMUKULAN MAHASISWA DI RIAU)

“Liberty must be limited, in order to be possessed”

Kalimat di atas merupakan salah satu kutipan dari filsuf dan politikus Edmun Burke. Menurut beliau, bila suatu negara dipimpin oleh orang-orang yang korup, pada akhirnya kebebasan tidak akan pernah ada. Namun, apakah makna kebebasan tanpa kebijaksanaan dan tanggung jawab? Istilah itu hanya akan berubah menjadi kebodohan, perbuatan buruk, bahkan kegilaan yang tidak memiliki batasan. Oleh karena itu, manusia hanya bisa bertindak sebebas-bebasnya dalam jalur yang telah dibuat.

Berkaca dari itu semua, para founding fathers negara ini melewati proses panjang untuk menyusun dasar hukum yang berkaitan dengan kebebasan. Salah satunya adalah UUD 1945 pasal 28E yang berbunyi: Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Namun, pasca tekanan masa Orde Baru, pemerintah kembali memperjelas peraturan ini lewat UU No. 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Perlindungan hukum ini, untuk sementara waktu, mampu memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa Indonesia akan mengalami kemajuan dalam proses demokrasi.

Meluasnya kasus pemukulan mahasiswa di Riau, membuat publik mulai ragu dengan demokrasi yang selama ini dibanggakan pemerintah. Media-media, baik cetak maupun online, memberitakan permasalahan ini dan mulai membentuk opini publik. Ada pihak yang menganggap ini kesalahan mahasiswa dan ada pihak yang menganggap ini kesalahan pemerintah. Namun, dalam isu ini kami tidak akan memperdebatkan siapa yang salah dan benar, karena pada akhirnya kenyataan hanya terdiri dari dua jenis, kenyataan yang bisa diterima dan kenyataan yang tidak bisa diterima.

Di satu sisi, mahasiswa di Riau telah menyadarkan kita semua bahwa peran mahasiswa tidak boleh sepenuhnya mati. Sebagai agen perubahan berbekal intelektual, mereka berusaha menyalurkan aspirasi rakyat Riau. Mahasiswa Riau membuktikan bahwa di tengah perkembangan jaman dan perbedaan pola pikir antar generasi, semangat mahasiswa untuk berdiri sebagai pilar penopang rakyat, tidak pernah redup.

Namun di sisi lain, sikap pemerintah Riau yang cepat tanggap dalam menghadapi permasalahan ini juga patut diapresiasi. Secara terbuka meminta maaf kepada mahasiswa dan memproses pemberhentian pihak-pihak yang terlibat, menunjukkan otoritas di wilayah tersebut masih responsif terhadap kegelisahan warganya. Tapi meskipun orang yang melakukan pemukulan telah di-nonaktifkan, ini masih dianggap tidak cukup untuk menghilangkan keraguan masyarakat.

Di luar dua aktor ini, ada satu aktor kunci yang memainkan peranan besar dalam permasalahan ini. Aktor tersebut adalah media massa. Kami menyadari sepenuhnya bahwa setiap media memiliki kepentingannya sendiri, sangat kecil kemungkinan akan ditemukanya netralitas di dalamnya. Oleh karena itu, kita tidak bisa melihat suatu permasalahan hanya dari satu sudut pandang dan mengabaikan perspektif lainnya. Hal ini juga kemudian kami lihat dari permasalahan ini. Pemberitaan yang tersebar di masyarakat masih menjatuhkan kasus ini ke dalam wilayah abu-abu. Namun di luar itu semua, permasalahan ini membuat kami mempertanyakan satu hal, bagaimana cara menyalurkan aspirasi secara elegan, sesuai dengan koridornya, dan efektif menimbulkan perubahan?

Kami melihat bahwa jaman yang berbeda, membuat pola pikir antar generasi semakin berbeda. Kita tidak bisa selamanya berkaca pada tindakan mahasiswa di masa Orde Baru dalam menjatuhkan rezim otoriter. Jangan sampai tindakan yang kita lakukan mencoreng image mahasiswa sebagai generasi berpendidikan. Tindakan tegas mahasiswa bisa disalahartikan sebagai wujud arogansi, tindakan non-provokatif mahasiswa bisa dilihat sebagai bentuk ketakutan, dan sikap pasif bisa membuat masyarakat berfikir bahwa mahasiswa telah kehilangan integritas.

Oleh karena itu, mahasiswa harus bisa membentuk ide-ide kreatif dalam menjalankan perannya. Ide-ide tersebut bisa direalisasikan dalam bentuk lagu, lukisan, mural, puisi, dll. Karya-karya itu tidak hanya akan menyuarakan aspirasi, tetapi juga akan mempermudah penanaman semangat perjuangan dalam diri masyarakat. Selain itu, mahasiswa juga bisa menyampaikan pendapatnya dalam diskusi-diskusi formal bersama pemerintah menggunakan aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam mimbar tersebut, setiap orang akan memiliki kesempatan yang sama dalam menyampaikan pendapatnya.

Selain itu kita bisa berkaca dari Soe Hok Gie, salah seorang aktivis mahasiswa yang hingga kini namanya masih dikenang. Ia memang orang yang berada di belakang mahasiswa tahun-65 untuk turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi, namun ia tidak pernah melupakan sebuah senjata andalan mahasiswa: Tulisan. Dengan membaca dan memperbesar jaringan, ia memiliki wawasan yang luas, sehingga mampu menciptakan tulisan-tulisan yang cerdas. Seperti perkataan Margaret Atwood, a word after a word after a word is a power, tulisan merupakan sebuah bentuk kekuatan yang sebenarnya. Kita tidak pernah tahu siapa yang pernah membaca tulisan kita, bagaimana perubahan yang bisa kita bawa ke kehidupannya, dan sejauh mana tulisan kita mampu mempengaruhinya.

Kesimpulannya, pada dasarnya kebebasan harus memiliki batasan, dan negara merupakan otoritas tertinggi yang mampu mengaturnya. Kami tidak akan menghakimi permasalahan yang terjadi di Riau karena kami berusaha memperlihatkan perspektif baru dalam isu ini. Wilayah abu-abu yang diciptakan oleh konflik antara mahasiswa dan pemerintah di Riau hanya bisa dilihat secara hitam-putih melalui kacamata hukum. Namun, kami tetap meyakini bahwa usaha-usaha yang dilakukan mahasiswa Riau telah mengingatkan kita semua bahwa mahasiswa akan terus berusaha mendukung kepentingan rakyat Indonesia. Semangat itulah yang telah membentuk identitas mahasiswa Indonesia.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA!
UNITY TO GLORY ! FISIP !!
Hasil diskusi Departemen Kajian Aksi Strategis dan Pengabdian Masyarakat
BEM FISIP Universitas Udayana Kabinet FISIP Kolaboratif
Bersama
Korps Mahasiswa Hubungan Internasional
Community of Political Science Student
Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Ikatan Mahasiswa Sosiologi
Persatuan Mahasiswa Administrasi Negara
Himpunan Mahasiswa Perpustakaan.





Dept. Media Kreatif BEM FISIP UNUD. Powered by Blogger.