Wednesday, March 30, 2016

Pernyataan Sikap BEM FISIP UNUD Kabinet FISIP KOLABORATIF Terhadap Peringkat UNUD di Bali maupun Nasional versi Kemenristekdikti Tahun 2015



Pernyataan Sikap Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana
Kabinet FISIP Kolaboratif

Peringkat Universitas Udayana di Bali Maupun Nasional versi Kemenristekdikti
Tahun 2015

Universitas Udayana merupakan salah satu pioneer akademik dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di Bali. Kampus yang berdiri sejak tahun 1962 ini terus berusaha meningkatkan kompetensinya demi menghasilkan generasi muda yang unggul, mandiri, dan berbudaya sesuai dengan visi misi Udayana. Universitas Udayana telah ditetapkan sebagai Badan Layanan Umum (BLU) yang memiliki jumlah mahasiswa pada tahun 2014 sebanyak 22.854 orang, meliputi jenjang diploma (S0) 877 orang, jenjang sarjana (S1) 18.041 orang, Program Spesialis 721 orang, program pas­casarjana (S2) 2.543 orang dan (S3) 622 orang. Universitas Udayana memiliki dosen sebanyak 1.567 orang, dengan kualifikasi pendidikan terakhir S1 5,87%, S2 64,96%, S3 24,25%, Spesialis 4,91%. Jumlah guru besar sebanyak 159 orang (10.15%) dan mempunyai Program Studi unggulan yang beragam, baik pro­gram diploma, sarjana, maupun pascasarjana.
Universitas Udayana mempunyai 19 Pusat Penelitian/Kajian Unggulan. Unud memiliki kerjasama dengan berbagai universitas di dalam dan luar negeri, baik di bidang pendidikan, penelitian, maupun peng­abdian kepada masyarakat. Memiliki kelembagaan penjaminan mutu dan telah melaksana­kan prinsip-prinsip penjaminan mutu untuk menjamin mutu lu­lusan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Terdapatnya lembaga audit internal yang telah memiliki do­kumen mutu dan menjamin aspek akuntabilitas, transparansi, efektifitas, efisiensi dan berkeadilan.
Namun, salah satu pernyataan terkait kualitas Universitas Udayana telah menarik perhatian publik. Pada bulan Agustus 2015, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menerbitkan Surat Keputusan Mengenai Klasifikasi dan Peringkat Universitas Nomor 492.a/M/KP/VIII/2014. Di dalamnya, terdapat penilaian mengenai komponen-komponen yang berhubungan dengan mutu perguruan tinggi di Indonesia, dan Universitas Udayana berada di peringkat 57 dari 3320 perguruan tinggi di Indonesia. Angka ini terbilang mengejutkan karena menunjukkan penurunan kualitas kampus Udayana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi bukannya tanpa alasan. Penilaian yang telah dilakukan didasarkan oleh beberapa kriteria berikut:

        a.      Kualitas Sumber Daya Manusia
Menurut pernyataan Dirjen Kelembagaan Ristek Dikti, salah satu kriteria yang dinilai untuk menunjukkan kualitas sumber daya manusia adalah jumlah dosen berkualitas, khususnya yang telah lulus S-3. Bila dibandingkan dengan universitas-universitas yang baru dibangun, Udayana mendapatkan nilai yang lebih rendah. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah ketidakmerataan penyebaran tenaga pengajar di universitas ini. Di antara 13 fakultas yang telah berdiri, masih ada beberapa fakultas baru yang masih berusaha meningkatkan mutu dalam berbagai bidang, sehingga berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Kekurangan tenaga dosen telah menjadi permasalahan krusial di beberapa fakultas baru ini. Beberapa faktor penyebab kekurangan pengajar ini, bisa jadi antara sulitnya mencari tenaga pengajar, atau memang merupakan kesengajaan untuk membatasi jumlah pengajar di Universitas Udayana. Jika faktor utamanya ialah sulitnya mencari tenaga pengajar baru, perlu adanya solusi untuk meningkatkan minat calon tenaga pengajar baru.  Salah satu jalan tengahnya ialah memberikan bantuan beasiswa kepada lulusan-lulusan terbaik dari semua jurusan di Universitas Udayana untuk melanjutkan studinya hingga jenjang S2 atau S3. Yang pada akhirnya diharapkan mereka bisa mengabdi ke almamater asal yaitu Universitas Udayana sebagai tenaga pengajar. Selain untuk meningkatkan kualitas generasi muda lulusan Universitas Udayana, usaha pemberian beasiswa ini dapat digunakan untuk menanggulangi masalah kekurangan tenaga pengajar dan juga sebagai regenerasi tenaga pengajar kampus agar semakin berkualitas.

        b.      Tata Kelola (Manajemen)
Organisasi dan Tata Kerja (OTK) dan struktur organsisasi di Universitas Udayana belum sepenuhnya mengacu persyaratan Badan Layanan Umum (BLU). Pemahaman civitas akademika tentang tata pamong dan tata kelola yang benar ternyata masih tergolong rendah. Selain itu, sistem informasi terpadu juga belum dikelola dengan baik. Unit-unit bisnis yang ada belum berkembang dengan maksimal sehingga belum memberikan keuntungan bagi pengembangan uni­versitas. Sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan akademik dan non-akademik kurang kuat dan belum berjalan dengan baik. Penataan dan pemanfaatan aset akademik dan fisik belum optimal dalam menunjang pengembangan Uni­versitas Udayana. Di sisi lain, kemampuan dari para staf di bidang perencanaan dan pengelolaan keuangan belum maksimal. Gejala kelemahan ini nampak pada pemahaman penyusunan kertas kerja perencanaan dan persepsi tentang pengelolaan keuangan yang berbasis BLU. Perencanaan dan pemanfaatan anggaran di Universitas Udayana belum didasarkan atas prioritas pengembangan institusi.
Beberapa fakultas atau program studi memiliki populasi ma­hasiswa yang sangat rendah, akibatnya, rasio dosen mahasiswa sangat besar. Kondisi ini akan mempengaruhi efisiensi pengelo­laan di fakultas atau program studi yang bersangkutan. Sarana dan prasarana proses pembelajaran di beberapa program studi belum memadai. Proses pembelajaran belum sepenuhnya dilaksanakan secara terintegrasi dengan proses penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga mutu produk dan pelayanan kepada ma­hasiswa belum optimal.
Sistem penjaminan mutu dan SOP proses pendidikan di masing-masing program studi belum dilaksanakan secara optimal. Hanya 22 % program studi terakreditasi A, 59% terakreditasi B, masih ada 5% terakreditasi C, dan 14% yang akreditasinya kada­luwarsa. Masalah akreditasi dari program studi/jurusan, khususnya yang ada di fakultas-fakultas baru, juga seharusnya menjadi prioritas utama Universitas Udayana karena sejatinya mayoritas program studi/ jurusan yang baru masih memiliki akreditasi yang rendah. Pemerataan akreditasi sangat penting untuk dilakukan untuk meningkatkan nilai dalam klasifikasi dan peringkat universitas. Tentunya akreditasi yang baik dari setiap program studi/jurusan di Universitas Udayana menunjukkan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyrakat luas.

           c.  Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan
Menarik melihat adanya penilaian yang dilakukan mengenai kualitas kegiatan mahasiswa dalam poin penilaian Klasifikasi dan Peringkat Universitas. Ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa ada hubungan yang harus terjalin antara pihak universitas (Rektor, Dekan, Dosen, TU) dengan mahasiswa khususnya Lembaga Mahasiswa yang berada di ranah eksekutif (Badan Eksekutif, Lembaga Eksekutif, Dewan Mahasiswa, Senat Mahasiswa) yang memegang peranan untuk menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan.
Setiap kegitan mahasiswa ini tentunya harus mendapat dukungan penuh dari pihak Universitas jika tetap ingin mempertahankan peringkat atau meningkatkannya. Salah satu bentuk dukungan yang paling krusial berasal dari segi finansial, karena mustahil melaksanakan sebuah kegiatan tanpa adanya dukungan dana yang maksimal. Namun menelisik Rencana Kerja (Renja) 2016, ternyata terjadi pemotongan dana yang cukup besar di segala bidang, tidak terkecuali dana kegiatan untuk lembaga kemahasiswaan. Tentu dengan adanya pemotongan ini, kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang menjadi salah satu tolak ukur Klasifikasi dan Peringkat Universitas, tidak bisa berjalan dengan maksimal.
  
           d. Bidang Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah
Mutu penyelenggaraan dan produktivitas penelitian serta pengab­dian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi masih tergolong rendah. Tentu fakta ini seharusnya tidak bisa diabaikan begitu saja, karena sangat jelas dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, dijelaskan pentingnya unsur penelitian dalam aktivitas akademik mahasiswa.
Terbatasnya penelitian dan pengabdian kepada masyara­kat tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada dosen maupun mahasiswa. Pihak Universitas Udayana melalui rektorat apakah sudah memberikan support yang maksimal terhadap penelitian dan pengabdian? Karena akitivitas ini membutuhkan bantuan dana dan tenaga ahli dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Sejalan dengan itu, kenyataan yang terjadi di Universitas Udayana, masih ditemukan fenomena berupa terbatasnya fasilitas dan sarana laboratorium serta per­pustakaan yang menghambat kegiatan penelitian. Padahal, Universitas Udayana memiliki tenaga peneliti potensial yang berkualifikasi S2 dan S3. Kemitraan dengan lembaga nasional dan internasional juga kurang berkembang. Komunikasi/diseminasi dan publikasi hasil-hasil penelitian me­lalui seminar dan publikasi ilmiah masih belum maksimal, khususnya di tingkat internasional.

Berdasarkan paparan di atas, maka kami BEM FISIP Universitas Udayana Kabinet Kolaboratif memandang perlu:
  •     Universitas Udayana memberikan kesempatan beasiswa kepada lulusan-lulusan terbaik dari setiap program studi/ jurusan, sehingga nantinya berdampak positif terhadap peningkatan kualitas SDM Universitas Udayana.
  • .    Universitas Udayana memprioritaskan peningkatan akreditasi pada program studi/ jurusan di fakultas-fakultas baru.
  •      Universitas Udayana meningkatkan dukungan terhadap lembaga kemahasiswaan, khususnya di bidang finansial.
  •      Universitas Udayana meningkatkan dukungan terhadap kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah, serta pemenuhan sarana dan pra-sarana.


Salam Kolaboratif
Unity to Glory! FISIP!!
Departemen Kajian Aksi Strategis dan Pengabdian Masyarakat
BEM FISIP Universitas Udayana
Kabinet FISIP Kolaboratif


Dept. Media Kreatif BEM FISIP UNUD. Powered by Blogger.