Monday, June 2, 2014

Hasil Diskusi FDC 26 Mei 2014

MAHASISWA: THE AGENT OF CHANGE
Senin, 26 Mei 2014

Belajar politik sangat identik dengan “sejarah”. Melalui sejarah pula kita dapat mengetahui serta memetik manfaat dari beberapa  pergerakkan pemuda dan mahasiswa yang mampu mengubah struktur politik di Indonesia. Sebut saja pergerakkan Budi Utomo pada tahun 1908, peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928, pada tahun 1945 pemuda ikut serta dalam merumuskan kemerdekaan, serta aksi-aksi bersejarah lainnya.
Tahun 1988 merupakan puncak aksi yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menurunkan rezim Soeharto. Aksi ini juga menjadi bukti bahwa selama masa kepemimpinannya, setiap kebijakan yang dibuat Soeharto tidak memberikan implikasi besar terhadap kesejahteraan rakyat. Tentu, dalam melakukan aksi, mahasiswa atau masyarakat harus memiliki suatu alasan pasti dalam melakukan aksi tersebut, bukan hanya sekedar menyuarakan pendapat tanpa dibarengi dengan tanggung jawab serta tujuan untuk menghantarkan Indonesia kearah  yang lebih baik.
Pada era reformasi, aksi mahasiswa mulai kehilangan arah dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Saat ini masyarakat seakan-akan dininabobokan oleh pemerintahan Indonesia yang terkesan pro rakyat, atau bisa jadi masyarakat saat ini lebih memilih mengambil sikap acuh tak acuh terhadap pemerintahan yang sudah terlanjur mendapatkan predikat buruk dimata masyarakat Indonesia. Setelah reformasi, banyak yang beranggapan kehidupan telah merdeka dan nyaman, padahal kesadaran pemuda dan mahasiswa masih kurang untuk  memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Miniminya pergerakkan mahasiswa saat ini tidak bisa hanya dilihat melalui satu perspektif saja. Jika dilihat lebih dalam lagi, pemerintah juga berperan terhadap pasifnya pergerakkan mahasiswa saat ini. Tidak dapat dipungkiri, saat ini mahasiswa kebanyakan dicekoki dengan berbagai macam tugas dan kegiatan di dalam kampus, sehingga membuat konsentrasi dan pikiran mahasiswa hanya tertuju pada tugas-tugas yang menumpuk ditambah lagi keinginan mereka untuk cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan. Tidak salah memang, namun apakah wajar jika mahasiswa hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya terlebih lagi dinamika politik saat ini. Perlu waktu khusus yang harus diluangkan oleh mahasiswa untuk ikut serta mengontrol berbagai macam kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Tentu saja, aksi mahasiswa bukan hanya dipenuhi dengan aksi demonstrasi dengan turun kejalan meminta keadilan dari kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, namun bagaimana mahasiswa mampu berpikir kritis menanggapi segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan menumpahkan aspirasi dan apresiasinya melalui tulisan. Sebagai mahasiswa, sudah sepatutnya kita lebih tanggap terhadap keadaan serta permasalahan yang terjadi di negeri kita ini. Apabila dalam pengimplementasian kebijakan, ternyata pemerintah tidak menjalankan kebijakan sesuai aturan dan tidak ada transparansi kebijakan terhadap masyarakat, maka mahasiswa wajar berkumpul untuk bersama-sama mengambil keputusan dan berdemonstrasi dengan baik.

Tragedi Tri Sakti dan pergerakkan mahasiswa lainnya sudah selayaknya dijadikan sebagai pondasi pemuda dalam mengkritisi dan mengontrol kebijakan pemerintah. Maka dari itu perlu ditingkatkan kembali kesadaran mahasiswa melalui forum diskusi dan pendalaman sejarah pergerakan pemuda dan mahasiswa melalui masa orientasi mahasiswa. Apabila pemuda negeri ini mampu bersatu dengan rasa solidaritas yang tinggi serta memiliki rasa cinta terhadap tanah air, tentu akan tercipta generasi yang gemilang dan mengubah karakter bangsa menjadi lebih baik.
Dept. Media Kreatif BEM FISIP UNUD. Powered by Blogger.